Bali Marathon 2016

Ini sebenarnya adalah keinginan yang impulsif. Gara-gara kelar ikut Komando Run yang cuma 5KM terus iseng bilang ke mbak fioney, mbak aku mau ikutan Half Marathon 😆 . Ucapan sepintas lalu yang ternyata diseriusin sama mbak fioney 😆

Akhirnya dikenalkan dengan teman-teman OBLER, ikutan latihan persiapan karena latihan bukan hanya lari tapi harus ada latihan core, stability, endurance dll dll, biar badan & kaki kuat, stamina terbentuk, tidak mudah cidera. Karena lari berjarak 21,1KM itu bukan cuma siap lari tapi harus siap fisik, mental dan stamina.

finisher ehehehe ehehehe

finisher ehehehe ehehehe

Dari awal ikutan race, saya memang pengen tidak hanya sekedar ikutan race tapi ada cerita dibelakangnya, karena semua orang bisa lari tapi tidak semua orang bisa lari dan ada moment tertentu. Komando Run saya ikuti karena merupakan ajang lari pertama yang diselenggarakan oleh Kopassus. Gelora Run, saya ikuti karena ini juga ajang lari pertama yang diselenggarakan oleh GBK dan untuk pertama kali ada ajang lari yang dilakukan di tribun penonton, seru yaaa.. Milo 10K, saya ikuti karena ini merupakan 10K pertama yang saya ikuti, walapun tidak dapat medal tapi i did it!

Bali Marathon merupakan ajang lari yang membuka mata hati dan menyisakan moment yang akan selalu diingat sepanjang masa plus nanti bakalan diceritain ke anak cucu dengan bangga. Sebagai pelari yang baru menekuni dunia lari 3-4 bulan terakhir akhirnya pecah telor juga menuntaskan Half Marathon sejauh 21,1 KM itu merupakan kebanggaan tersendiri. Semua lelah, sakit, pegel2, air mata akibat latihan terbayarkan sudah dengan medali ditangan. Walaupun bukan personal best tapi setidaknya bisa menuntaskan dalam waktu kurang dari 4 jam.

Fisik, mental dan stamina saya dipertaruhkan di sana. Begini rasanya melawan diri sendiri untuk tidak menyerah, begini rasanya memaksa badan untuk terus lari dan yakin bahwa akan bisa finish walaupun kaki terseok-seok karena kram parah, gini rasanya lari sendiri sedangkan teman-teman yang lain sudah pada ngacir di depan, gini rasanya nangis sendiri pas kaki kram sedangkan medis masih jauh di depan dan malu minta tolong sesama runners untuk bantuin :lol:.

Apalagi sebulan sebelum Bali Marathon 2016, kerjaan datang bagaikan angin typhon :lol:. Bertubi-tubi dan gak berhenti-berhenti, termasuk ketika ke jogja-solo untuk menghadiri nikahan riwis, yang lain liburan, saya dan novika persiapkan brief dan kirim-kirim email di hotel :lol:.. Pas di Bali juga sama, kelihatannya aja jalan-jalan, makan dalam rangka carbo loading, aslinya mah buka laptop 😆 Jadi stamina memang tidak bagus dan sudah pasrah tidak akan sampai finish dibawah 3 jam  JIYEEEEE NUNIK TSURHAT 😆  Walaupun begitu tetap bangga sama diri sendiri

muka udah kaya udang rebus :lol:

muka udah kaya udang rebus 😆

Lari menggunakan jilbab itu bukan hal mudah. Tidak jarang harus menggunakan 2 lapis baju, 2 lapis penutup kepala, 2 lapis celana, ENGAP!! apalagi kemarin itu cuaca bali jam 7-8 pagi berasa jam 11-12 siang panas banget and i did it.

versi sedikit lebih bagus :lol:

versi sedikit lebih bagus 😆

Selain itu yang menjadi penyemangat adalah karena saya dan teman-teman OBLER berlari bukan hanya karena ingin memecahkan rekor pribadi tapi juga karena kami mempunyai misi untuk membantu pendidikan anak-anak dibawa asuhan SOS Children’s Village Indonesia, sebuah misi yang menyangkut hajat hidup anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan untuk masa depan lebih baik. Tidak menjadi beban tapi semacam pengingat ketika badan ini memberikan kode bendera putih 😆 Bahwa sebenarnya kami masih mampu dan harus menyelesaikan race ini untuk mereka.

bareng teman-teman obler

bareng teman-teman obler

Semua rasa campur aduk menjadi satu. Sempat bilang ke coach Ben, kalo ndak mau ikutan HM lagi karena badan sakit semua, mau napak tapi kaki sakit, jalan agak membungkuk dan ngangkang, naik tangga sambil merangkak sakit gak kuat 😆 tapi 2 hari kemudian malah mulai bikin list ajang lari di luar kota mana aja yang menjadi inceran 😐 MANUSIA YA 😆

Pelajaran dari ikutan HM yang bisa saya ambil adalah

  • Lari buat nunik adalah salah satu cara untuk membuat kepala, pundak, lutut, kaki dan hati tetap balance di tengah gempuran pekerjaan dan hidup yang terkadang up and down.
  • Lari buat nunik adalah salah satu cara menyeimbangkang hidup sehat, bukan untuk gaya-gayaan, sekedar ikut trend. Walaupun memang saya akui kalau motivasi awal ikutan race adalah biar kaya orang-orang kekinian 😆 tapi waktu akhirnya yang membukakan mata hati bahwa boleh ikutan trend asalkan jangan kebablasan dan merugikan diri sendiri. Selama itu baik dan positif untuk diri sendiri dan lingkungan, kenapa tidak. HAJAR BLEH
  • Lari bukan hanya sekedar lari, apalagi kalau kamu punya rencana untuk lari jarak jauh bahkan konsisten untuk lari. Persiapkan dengan baik, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya.
  • Mental adalah satu hal yang penting untuk dipersiapkan, karena kamu akan melawan diri sendiri, itu yang terberat. Saya mengalami sendiri dan masih merinding kalo diingat-ingat lagi
  • Kalau memang masih mampu, lanjutkan walaupun akhirnya harus menyeret kaki sepanjang puluhan kilometer tapi kalau memang tidak mampu lebih baik menyerah ke medis dan naik ambulance. Tidak usah malu ketika did not finish (DNF), sesuaikan dengan kondisi badan, mungkin di race selanjutnya bisa menjadi penamat/finisher. Karena yang tau keadaan diri adalah kita sendiri.
  • Tidak usah malu ketika finish lebih dari COT (cut off time), karena tidak ada yang bisa menebak kondisi kita ketika sedang mengikuti race walaupun sudah mempersiapkan diri dengan matang. Semua pelari yang menamatkan lari walaupun melebihi COT bagi saya pribadi adalah finisher dengan atau tanpa medali. Karena percayalah, melawan godaan untuk tidak di evakuasi itu tidak mudah.
  • Intinya adalah jangan sampai lari menjadi ajang takabur dan semena-mena terhadap badan sendiri, mungkin itu akan menjadi pencapaian dan kebanggan pribadi tapi kalau akhirnya menyiksa diri dan menyebabkan (amit-amit, semoga tidak terjadi) cidera parah atau malah cacat, yang rugi adalah teman-teman sendiri.

Mungkin ada beberapa teman yang tidak setuju, tidak apa-apa karena ini adalah pelajaran yang saya ambil dari ikutan HM, catatan untuk diri sendiri yang saya bagi. Karena beda itu indah dan tidak harus selalu jadi hal yang mesti diperdebatkan atau dipaksakan.

selanjutnya gigit medal FM (?)

selanjutnya gigit medal FM (?)

the best achievment

the best achievment

Karena sesungguhnya lari itu hanya merana sesaat, setelahnya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan percayalah lari itu nagih! Maka nikmat lari mana yang kau ingkari ehehehehe hehehehhe

 

Advertisements

6 thoughts on “Bali Marathon 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s