Compressport Run Jakarta 2016

Pertengahan September tepatnya 18 September 2016, saya ikutan #Compressportrunjkt 2016 di TMII. Pertama mengetahui kalau akan dilaksanakan di TMII, saya langsung semangat untuk ikutan, karena pasti udaranya bakalan segar banget dan bakalan lari mengelilingi indonesia dalam waktu kurang dari 2 jam.

Berlari buat saya, lari itu untuk fun jadi pengennya sesuai dengan keinginan, salah satunya adalah waktu start dan lokasi. Waktu start maksimal dimulai jam 06.00 untuk jarak 10KM buat saya sudah ideal karena 1-1,5jam ke depan cuaca masih adem, kalau lebih dari itu sudah dipastikan akan panas dan emosi akan mudah tersulut 😆 :lol:. Untuk lokasi, saya masih mencari tempat lari yang udaranya masih segar, salah satunya CFD, walaupun udara jakarta itu penuh polusi tapi setidaknya ketika lari kita tidak berpapasan langsung dengan asap kendaraan, dan TMII semacam tempat ideal untuk memulai pagi untuk berkeringat dan lari sejauh 10KM.

kika: nunik - deddy - adi

nunik – deddy – adi

Ada satu kendala yang saya alami di #compressportrunjkt, stamina jelek banget apalagi setelah lewat 5KM, badan semacam menolak diajak lari dan rasanya tidak nyaman, ntah kenapa. Sempat ngobrol sama mas Adi yang juga ikutan lari. Menurut mas Adi, mungkin badan saya masih dalam tahap recovery, sebagai pemula dan baru pecah telur Half Marathon, badan butuh +- 3 bulan untuk kembali normal seperti biasa, atau bisa jadi itu adalah efek stress yang terkadang tidak kita sadari.

Mungkin mas Adi ada benarnya, ketika dirunut ke belakang, setelah Bali Marathon, pekerjaan sedang padat-padatnya dan lumayan menguras energi, walaupun tidur sudah sangat cukup tapi sepertinya badan saya masih kecapean, jadinya ketika berlari di TMII badan semacam menolak.

Ada kalimat dari seorang teman yang sampai saat ini kalimat tersebut menjadi panutan saya, bahwa dalam “berlari itu harus mendengarkan diri sendiri (listen to your body)” karena sebenarnya badan itu mengirimkan sinyal-sinyal ketika ada sesuatu, namun seringkali kita yang tidak menyadari atau malah mengabaikan.

Bahwa sebenarnya lari itu tidak mudah namun bisa menjadi mudah ketika kita mengetahui kapan harus berhenti, kapan harus istirahat, kapan harus slow down dan kapan harus push the limit. Caranya? Terus berlari dan terus mengenali diri sendiri, nanti akan ketemu selahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s