Sumbawa dan Segala Kerinduan

Long weekend Maret kemarin (25-27 maret 2016) memutuskan untuk pulang ke Sumbawa, sekedar melepas penat dari padatnya Jakarta dengan segala keruwetannya. Sekedar menghirup udara rumah, menikmati masakan ala mama tercinta, tidur di kamar. Sekedar minta dibikinin makanan kesukaan masa kecil sama keluarga dan tidur di rumah mereka. Dan yang paling penting mengunjungi makam Alm. Bapak

Pengen menghilang sejenak dari peredaran adalah pemicu, tapi kalau dibilang rindu, saya sempat mengelak. Dengan kondisi seperti sekarang yang masih single membuat saya memang memutuskan tidak pulang dulu kalau tidak ada yang penting. Saya lelah judgdement “kamu terlalu pemilih sii” dan mereka mengatur harusnya begini harusnya begitu aja. Saya lebih bisa menerima pertanyaan klasik, seperti yang ditanyakan om Nyoman, tetangga depan gang “sudah ada yang dibawa pulang?”

Untuk ukuran perempuan yang 5 April 2016 besok akan berumur 35 tahun dan masih sendiri, makin ke sini hal tersebut menjadi beban. Bukan hanya saya, Ibu saya juga ternyata menghindari untuk silaturahmi ke beberapa keluarga karena mengalami kelelahan yang sama, dan saya baru tau. Beban itu jadi nambah

Tapi akhirnya saya mengakui bahwa saya rindu Sumbawa, tempat saya dibesarkan. Tempat saya mengalami masa-masa adaptasi. Tempat saya dibentuk menjadi perempuan mandiri yang semua-mua bisa dilakukan sendiri. Tempat saya mengalami cinta pertama dsbnya. Bahwa menghilang sejenak dari peredaran hanyalah pemicu, saya rindu sumbawa adalah alasan utama.

Berangkat dari jakarta jam 08.00 dan sampai sumbawa jam 17.30. Sempat delay di Lombok 1 jam karena hujan deres banget dan baru kali ini malah berharap Lion Air delay 😆 ngeri banget soalnya. Sampai Sumbawa dijemput mbak Ning dan pas sampe rumah pintu pagar kok udah digembok aja, MAMAAAAAAAAA :((

Ternyata banyak pemulung yang dengan santainya bukain pagar rumah-rumah yang tidak dikunci untuk ubek-ubek tempat sampah, makanya setiap saat selalu digembok *fiuuuh :lol:. Aroma mama masih seperti biasa, aroma dapur dan aku suka. Terus udah disiapin masakan Sepat dan rendang daging ala mama. Habis makan, tidur 😆 menyenangkan ya

Rasa memang tidak bisa dibohongi, saya adalah orang yang tidak gampang adaptasi dengan satu tempat butuh waktu untuk badan menyesuaikan dengan tempat baru, walopun itu rumah sendiri secara pulang juga jarang-jarang, tapi malam itu dan selama di Sumbawa saya bisa tidur jam 21.00 dan nyenyak sampe pagi! Kalo di Jakarta mana bisa 😆 Pun tidur jam 21.00 pasti kebangun lagi sekitar jam 12.00-02.00, kecuali beneran capek yaa baru bisa tidur nyenyak lebih dari 4 jam.

Kegiatan di Sumbawa juga tidak banyak karena memang kepulangan kali ini memang pengen di rumah aja. Ke pasar untuk cari jajanan, itu sudah pasti dilakukan setiap pagi. Ke makam Alm. Bapak terus ke sekolah ponakan untuk ketemu mereka terus ke rumah keluarga untuk minta makan siang, terus beliin rice cooker, sempat ke toko kue langganan sejak kecil untuk cari jajanan kesukaan, udah. Selebihnya di rumah aja tidur dan ngobrol sama mama dan Mbak Ning. Priceless!!

Nanti pas Idul Adha, insya allah akan pulang lagi dan jalan-jalan. Katanya banyak lokasi wisata baru di sana. Jadi gak sabar!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s