Mencicipi Kuliner Makassar

Makassar adalah kota yang sudah masuk dalam list destinasi yang akan saya kunjungi suatu saat, tapi siapa sangka beberapa waktu yang lalu berkesempatan untuk berkunjung ke sana. Salah satu kota tempat pelaksanaan Blogger Camp 2015, tapi bukan untuk menghadiri Blogger Camp 2015, melainkan untuk urusan kantor.

Tiba di bandara Sultan Hasanuddin, jam di menunjukkan pukul 18.30. Tidak sempat untuk foto-foto di bandara karena saat itu saya bersama rombongan Kementrian Pertanian. Padahal pengen banget punya foto pas di Bandara Hasanuddin 😆 😆 Tapi yasudahlah yaa, semoga suatu saat kembali ke sana khusus untuk jalan-jalan, jadi bisa foto-foto dimanapun, sepuasnya 😀

Karena kunjungan tersebut dalam rangka kerja, jadinya tidak banyak waktu yang dimiliki untuk disambi jalan-jalan. Pengen ke lokasi Blogger Camp, tapi karena jaraknya yang jauh, 3 jam dari lokasi menginap, akhirnya niatan tersebut batal dan kulineran juga yang selewatan aja 😆

Kuliner pertama yang dicicipi adalah Konro Bakar, Karebosi. Konon katanya, belum ke Makassar kalo belum makan konro bakar karebosi #okesip :lol:. Saya lupa lokasi tepatnya di mana, yang jelas tempatnya rame dan panas. Jadi setelah makan konro bakar, ini baju basah karena keringetan :lol:. Porsinya gede banget, rasanya agak aneh di awal tapi lama-lama ketagihan :lol:.

Konro Bakar Karebosi

Konro Bakar Karebosi

Kuliner kedua adalah sup kepala ikan di RM. Angkasa Nikmat. kalau kata Pak Sam, sup kepala ikan ini adalah yang terenak di Makassar. Awalnya menolak karena pada dasarnya saya tidak suka makan kepala ikan, mau dimasak seperti apa juga :lol:, lagian gimana gtu rasanya yaa, kepala ikan kok di makan :|. Tapi akhirnya makan juga karena gak enak sudah dipesankan. Deg-degan plus pake nahan napas dulu :lol:, tapi akhirnya lhooo kok enak, dagingnya kok banyak, kuah supnya juga seger banget. Tapi kalau disuruh makan lagi sepertinya saya akan memilih menu lain aja :lol:. Oiya sup ikannya, saya pesan yang tanpa santan yaa, ada namanya tapi lupa 😀

Sup Kepala Ikan

Sup Kepala Ikan

Oiya di RM. Angkasa Nikmat juga ada Barongko. Kue yang terbuat dari pisang yang dihancurkan, dikasih gula, kemudian di kukus. Saya tidak asing dengan Barongko, karena jajanan tersebut biasa dibuat mami sehari-hari di Sumbawa. Cuma kalau di Sumbawa kami menyebutnya Berongko, hanya ada perbedaan di huruf ‘a’ dan ‘e’. Sudah tau kan kalo Sumbawa dan Makassar itu semacam satu keluarga? Kalau belum, nanti akan saya ceritakan di tulisan yang berbeda ya 🙂

barongko pisang

barongko pisang

Kuliner terakhir yang saya coba adalah Pisang Epe dan minuman Sarabba, ini juga karena lokasinya di Pantai Losari yang cuma selemparan selendang dari hotel tempat saya menginap :lol:. Sebelumnya sudah tanya ke orang hotel mengenai lokasi pantainya dan katanya dekat. Tapi sebagai pendatang baru yang tidak pernah percayaan apa kata orang, jadi saya sangsi kalo pantainya dekat DAN TERNYATA EMANG DEKAT BANGET 😆 😆

Pisang Epe dan Sarabba

Pisang Epe dan Sarabba

Pantai Losari malam itu tidak terlalu ramai, banyak penjual pisang epe dan sarabba berjajar di pinggir pantai. Tempatnya lumayan bersih dan banyak muda-mudi saling bercengkrama. Di sana juga saya tidak banyak foto-foto karena sudah terlalu lelah akibat perjalanan ke Takalar siang sebelumnya, tapi setidaknya sudah menginjakkan kaki di Pantai Losar dan mencicipi beberapa kuliner Makassar sudah cukup membuat hati senang 🙂

Pantai Losari

Pantai Losari

Oiya saya mau cerita sedikit mengenai Takalar, tepatnya di Desa Campagaya, Galesong

Takalar merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan dan mempunya 8 kecamatan dan Galesong merupakan salah satunya. Kunjungan ke Takalar sebelumnya tidak ada di jadwal, tapi karena sesuatu dan lain hal tiba-tiba kita sudah sampe aja di sana :lol:. Dengan persiapan yang seadanya (baca: pake heels :lol:)

Jangan tanya kenapa pake heels :lol:

Jangan tanya kenapa pake heels 😆

Sepanjang perjalanan masuk ke Desa Campagaya, saya sempat terdiam lama sekali sambil memperhatikan rumah panggung yang berjajar. Berasa pulang ke kampung simbah putri di Alas, Sumbawa. Dan wajah serta cara berpakaiannya masyarakat di sana sangat tidak asing buat saya, sebelum akhirnya tersadar, yapasti mirip wong kita satu keluarga dan saya mempunyai darah Bugis walaupun belum jelas sebanyak apa :lol:.

Di Desa Campagaya, saya mengikuti kegiatan Bapak Amran Sulaiman dalam rangka panen raya Kedelai. Respon saya sama seperti mengikuti agenda beliau ketika panen raya Padi di subang. Daerah yang panas dan gersang kok bisa menghasilkan berhektar-hektar padi yang sangat sehat. Di Campagaya saya melihat hamparan luas kedelai yang menguning dan siap panen. Ini Indonesia yang saya kenal, dengan tanah yang luar biasa subur dan luas, dikelola dengan baik sehingga bisa memberikan kesejahtaraan bagi masyarakatnya. Intinya adalah selama pengairannya digarap dengan benar, diseriusin, apapun yang ditanam akan bisa hidup. Wajah Indonesia ada di tangan mereka, petani kita, setidaknya ini menurut saya.

Anyway, saya juga sempat mencicipi jagung rebus. Lupa, jenis apa. Yang jelas warnanya putih dan legit sekali. Hampir nangis waktu gigitan pertama, kebayang gak si satu desa terpencil di Sulawesi Selatan mempunyai jagung yang seenak itu yang menurut penduduk di sana, hanya ada di daerah Takalar. Sayang pada waktu itu gak tega untuk bawa pulang, soalnya udah jadi rebutan para warga. Saya beruntung bisa dapet satu, walaupun itu kecil 😆

Takalar

Kalau boleh saya cerita sedikit mengenai pak Amran. Sebagai rakyat jelata, bisa duduk disamping seorang Menteri dan ngobrol layaknya teman biasa, itu adalah suatu kehormatan. Dan ketika di Makassar, ditengah kerumunan orang yang menyambut kedatangan beliau di hotel, bapak Menteri tersebut tiba-tiba melirik dan mendatangi kami (saya dan mas Iwan) yang berdiri dibelakang kerumunan tersebut  kemudian mengulurkan tangan untuk salaman (((MENGULURKAN TANGAN LHOOO, SEORANG MENTERI LHO MENGULURKAN TANGAN TERLEBIH DAHULU))). Ntah, bagaimana kok beliau bisa mengetahui tempat kami berdiri. Kalau bisa, saat itu juga mungkin saya akan loncat2 kegirangan :lol:. Bangga gak si? Kalau saya iya 🙂

Saya tidak mengenal Bapak Amran Sulaiman dengan baik tapi dua kali mengikuti kegiatan beliau dan sempat mengobrol beberapa saat cukup menunjukkan bahwa beliau adalah seorang pekerja keras, sangat Indonesia, berusaha sangat keras untuk meningkatkan kualitas pertanian di Indonesia. Silakan googling sendiri apa saja pencapaian beliau ya :). Usaha beliau untuk memberantas mafia sapi juga patut diacungi jempol, kok bisa? kok gak ada di berita? anu, situ salah kalau nanya ke saya, karena saya gak ngerti, saya hanya consern ketika sudah tidak ada issue sapi yang menghilang lagi diperedaran sampai sekarang dan harga daging juga tidak melonjak tinggi, buktinya ibu warteg sudah mau dipesenin sup daging :lol:. Ketika pada akhirnya nanti semuanya adalah pencitraan semata, kita bisa menuntut pertanggungjawaban dari beliau 🙂

Terima kasih untuk semua makanan dan keramahannya wahai Makassar, semoga saya bisa berkunjung lagi ke sana karena masih ada beberapa tempat yang pengen di explore lebih jauh :).

Advertisements

5 thoughts on “Mencicipi Kuliner Makassar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s