Shave For Hope: An Emotional and Happiest Moment

Jangan terkecoh dengan judulnya, soalnya kalo dijadikan bahasa Indonesia malah gak dapet feelnya :lol:.

Udah tau dari jauh-jauh hari kalo shave for hope 2015 akan diadakan, tapi dengan kesibukan kantor yang padat ditambah lagi jadwal kuliah 3kali seminggu, saya tau diri untuk tidak mengajukan diri sebagai salah satu volunteer daripada nanti bubrah semua 😆

Dapat nomor urut 0560, menempatkan saya di kloter 1. Shave for hope 2015 membagi social angel menjadi 3 kloter, mungkin untuk menghindari antrian terlalu lama. Tapi ternyata system di sana adalah first in first serve. Jadi saya yang datang jam 10 pagi tidak perlu mengantri lama berdasarkan nomor urut karena social angel yang datang juga tidak berurutan.

Be the hope, be the hero

Be the hope, be the hero

Kelar registrasi ulang saya diarahkan untuk foto terlebih dahulu tapi dengan pertimbangan tidak akan ada bedanya before shave dan nantinya after shave jadinya saya melangkahi step tersebut dan langsung masuk ke ruang khusus untuk social angel yang menggunakan hijab.

Pikiran saya, konsep ruangannya seperti di salon dengan versi minimalis. Ada kursi dan kaca, ternyata hanya kursi yang dijejerkan dengan 3-4 mbak kapster, kemudian saya bingung; ntar pake jilbabnya lagi gimana kalau ndak ada kaca :lol:. Belum lagi saya yang galau mau dibotak atau dipotong sangat pendek :|. Terus sudah punya rencana, nanti kalau potongannya ndak rapi, bakalan diraikan di salon depan rumah 😆

Akhirnya memutuskan untuk dipotong sangat pendek, dibawah telinga sedikit. Selama proses pemotongan tersebut saya berfikir; beruntungnya saya yang diberi kesehatan sampai detik ini. Bagaimana dengan mereka adik-adik penderita kanker yang tidak punya pilihan ketika rambut mereka perlahan mulai rontok akibat kemoterapi, tidak punya pilihan lain selain rambutnya dipotong sangat pendek atau bahkan botak yang menjadikan wajahnya menjadi jelek. Bagaimana perasaan mereka pada saat menatap diri sendiri di kaca. Bagaimana perasaan mereka ketika melihat teman-teman seusia mereka yang aktif berkegiatan sedangkan mereka terkungkung di satu gedung karena tidak punya pilihan lain.

Perasaan saya berkecamuk hebat, sampai pengen nangis rasanya. Betapa berat perjuangan mereka menghadapi semuanya, tidak hanya rasa sakit tapi mungkin printilan yang sempat saya rasakan ketika rambutnya mau dipotong. Bagaimana anak sekecil itu menanggung beban yang sangat berat. Pikiran yang berkecamuk tersebut menjadikan saya pengen cepat-cepat pulang karena tidak kuat untuk menahan tangis. Nangis bukan karena sedih, tapi terharu serta malu. Terharu karena mereka hebat, semangat juang yang tinggi dibandingkan saya yang udah bangkotan ini masih aja takut jelek karena rambutnya dipotong terlalu pendek dan tidak rapi padahal ya ditutup juga pake jilbab.

Bahkan untuk berfoto-foto ria dan menikmati keriuhan setelah selesai berfoto, saya sudah kehilangan mood padahal udah bela-belain dandan dan bakalan stay di sana menunggu beberapa teman. Tapi saya menyempatkan berfoto dengan seorang teman yang kebetulan menjadi volunteer #SFH2015, ketemu ketika menuju pintu keluar.

dengan pemuda harapan bangsa :lol:

dengan pemuda harapan bangsa 😆

Tapi senang ketika memperhatikan TL @shaveforhope, acaranya sederhana tapi sarat makna dan bahagianya sampai ke saya. Semoga juga sampai ke adik-adik tersebut yaa.

When artis do shaving

When artis do shaving

Siapapun yang punya ide untuk mengadakan acara ini, terima kasih. Terima kasih sudah membuat saya malu karena kurang bersyukur dengan nikmat sehat yang diberikan Allah SWT, dan terima kasih sudah membuat saya malu karena kurang peka dengan sekitar dan masih melulu memikirkan diri sendiri.

volunteer shave for hope 2015, rawk!

volunteer shave for hope 2015, rawk!

i had the best weekend with many lesson, thank you again.

ps: foto volunteer dan artis dari twitter @shaveforhope

Advertisements

2 thoughts on “Shave For Hope: An Emotional and Happiest Moment

  1. Natalia says:

    Tahun ini ternyata aku kelewatan Shave For Hope uffhhh 😦 Ya karena terlewat gak memantau akun Twitternya, dan juga kebetulan ada acara lain yang perlu aku hadiri weekend kemarin.

    Tiga tahun lalu aku ikut SFH dan sempat ditulis selintas di sini nih http://natalixia.com/2012/08/01/perubahan/ – siapa tahu mau lihat fotonya hihihi..

    Anyway thank you sharingnya Nunik!! Aku jadi ikut mellow dan tersentuh baca pemikiran kamu tentang betapa kita masih perlu banyak bersyukur 🙂 Thank you again!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s