#9thGempaJogja Kenangan Terjebak Diantara Merapi dan Laut Selatan

2006, pagi hari sekitar pukul 05.30. Saat itu saya sedang siap-siap untuk senam di salah satu sanggar di jalan Kaliurang. Ingat sekali waktu itu saya baru saja sikat gigi di kamar mandi. Tiba-tiba berasa goyang dan genteng-genteng berjatuhan. Jogja gempa!

Gambar dari sini http://bit.ly/1JVaJU1

Gambar dari sini http://bit.ly/1JVaJU1

Anak-anak kos pada teriak membangunkan yang masih tidur GEMPA GEMPA!!!. Saya juga ikut berteriak membangunkan mbak evi. Seketika pagi yang tenang menjadi riuh dan panik. Tanah masih bergerak, kami waspada.

Gempa jogja tidak berlangsung lama, saya malah mau melanjutkan untuk berangkat senam :lol:. Keukeuh seumeukeuh kalo itu cuma gempa sesaat dan saya gak boleh ketinggalan untuk senam :lol:. Tapi urung dilakukan, soalnya dimarahin mbak evi *yakalinik :lol:. Tidak sadar bahwa gempa jogja hari itu kekuatannya 5.9 skala Richter.

Tidak lama setelah itu terjadi kepanikan kembali, ntah siapa dapat kabar darimana, kami mendengar kalo Merapi mau meletus dan ada Tsunami dari Laut Selatan. Sebelumnya Merapi memang sempat batuk namun sudah tenang dengan adanya gempa jogja, Merapi kembali batuk-batuk.

Saya sempat berpikir bahwa, mana mungkin Jogja kena Tsunami, wong jaraknya jauh gtu. Dan kalau Merapi meletus palingan Jogja kena debunya. Iya, pikiran nggampangke yang sempat mampir ke otak  😆

Dengan membawa pakaian seadanya dan barang2 yang dianggap penting, akhirnya kami mengungsi ke rumah temannya mbak evi yang lokasinya agak tinggi di KM.8.  Kaget karena di perempatan ringroad utara sudah penuh manusia, sebagian masyarakat jogja turun ke jalan.. Semua orang mau menuju kemana, dengan teriakan TSUNAMI TSUNAMI!!! Sambil melihat ke arah Bantul. Saya sempat melihat ke Merapi, asapnya semakin tebal dan kemudian melihat ke arah kira-kira datangnya Tsunami, lautan manusia menjadi semakin tidak terkendali. Semakin erat memeluk perut mbak evi. Saya yang awalnya cuek dan santai akhirnya was-was banget.

Kami terjebak di perempatan ring road yang sudah jadi lautan manusia dengan berbagai macam kendaraan, sekitar 1jam kalau tidak salah atau malah 2jam, saya lupa tepatnya. Semua ingin cepat sampai ke tempat yang dianggap paling aman, tidak ada yang mau mengalah, semua mengumpat, semua berteriak bikin kuping pengang.

Komunikasi terputus, Bandara Adi Sucipto hancur. Saya dan teman lain yang juga menginap hanya bisa pasrah, berharap keesokan hari komunikasi sudah lancar agar bisa menghubungi sanak saudara dan orang tua.

Saya lupa -lagi- tepatnya, akhirnya sms ibu saya bisa sampai untuk menanyakan kabar dan kalau terjadi apa-apa kami disuruh mengungsi ke Jakarta. Ndak malah disuruh pulang ke Sumbawa :lol:. Tapi kami memutuskan untuk tetap di jogja. Beberapa teman, ada yang pulang ke daerah masing-masing via Bandara Adi Soemarmo.

Kami kembali ke kos karena suasana sudah semakin tenang tapi warung belum ada yang buka, jadinya makan dengan ransum seadanya (indomie dan telur) 😆 plus ransum lain yang masih dipunyai anak-anak. Semua makan bersama, semua berbagi, semua kebagian, guyub!

Anak kos lain yang sempat mengungsi juga sudah pada kembali tapi kami masih belum diijinkan untuk tidur malam di kamar, semua tidur di garasi. Masih ingat setiap menempelkan telinga ke kasur, saya bisa mendengar suara tanah dan bebatuan yang bergerak dibawah sana, horor sekali. Takut kalau besok ketika bangun, kosnya bergeser kemana gtu :lol:. Sampai-sampai tidak bisa membedakan suara ban mobil yang masuk ke halaman dengan suara tanah dan batu yang bergerak.

Setelah semuanya tenang, semua akhirnya kembali ke kamar masing-masing. Mendengar kabar kalau daerah bantul dan kulon progo merupakan daerah terparah karena masuk di jalur gempa. Saya dan mbak evi tidak diperbolehkan ke tempat keluarga di Kulon Progo, takut terjadi apa-apa karena suasana masih belum kondusif walaupun sudah normal.

9 tahun sudah, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tapi kejadian di hari itu, masih jelas terasa dan terpatri diingatan. Begitu banyak luka, kehilangan dan kerugian yang dialami, terutama di daerah yang masuk jalur gempa. Memori yang tidak akan terlupakan.

Tetaplah lestari dan sehat Jogjaku.

Advertisements

4 thoughts on “#9thGempaJogja Kenangan Terjebak Diantara Merapi dan Laut Selatan

  1. Dian Rustya says:

    Jadi keinget, 9 tahun yang lalu, (kayaknya) gempa yang sama juga terasa sampai ke Malang.
    Pas itu masih gegoleran di kasur, masih setengah ngantuk, badan goyang2 sendiri. Awalnya mikir itu efek demam sampai menggigil. Tapi kok air di galon juga goncang2, handuk yang dicantelin di hanger kok gerak2. Mikirnya lama beneeer, sampai ada mbak kos teriak GEMPAAAA, baru ngeh klo itu gempa, trus langsung locat, cepet2 keluar dari kamar..

    Alih2 lari keluar kos, anak2 malah ngeburutin TV, nyari siaran berita. Ternyata Yogya gempa 😦 Seharian kami memantau dari televisi sambil menghubungi teman/saudara yang lagi ada di Yogya.

    Duh, komentarku kok panjang banget ya mbak *langsung berkemas*

    • nunik99 says:

      whahahahaha eh ndak apaaa, sini komen lagi *lah :)))

      ndak nyangka kalo sampe malang. TV memang salah satu sarana komunikasi yang dipantengin sejak gempa, ada kalanya untuk nonton berita saja tidak sanggup karena ternyata daerah bantul dan kulonprogo parah banget.

      terima kasih sudah mampir ya :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s