Eksotisme Kampung Naga

Kunjungan ke kampung naga  adalah rentetan dari perjalanan menjemput pagi di Galunggung. Pagi kami naik ke Kawah Gunung Galunggung, setelah itu lanjut ke Kampung Naga yang jaraknya +-1jam kalo gak kesasar.

Even with all our technology and the inventions that make modern life so much easier than it once was, it takes just one big natural disaster to wipe all that away and remind us that, here on Earth, we’re still at the mercy of nature.

Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kampung Naga ini masih sangat mempertahankan kearifan lokal dan budaya yang mereka jaga sejak dahulu.

Dari hasil baca-baca, saya mengetahui bahwa masyarakat Kampung Naga semuanya beragama Islam, walaupun menyatakan memeluk agama Islam, masyarakat Kampung Naga tetap menjaga warisan budaya leluhur. Menurut kepercayaan, menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun.  Jika ada yang tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.

such a beautiful places

such a beautiful places

Pertama kali sampai diujung pintu masuk, saya tercengang dan hanya bisa terdiam, takjub dengan pemandangan yang luar biasa indah. Syahdu, tenang, jauh dari aura mistis. Ada sawah yang menghijau, disisi lain ada seorang bapak yang sedang asik memancing. Ingin rasanya saya menginap 1-2 malam di sana

lukisan alam yang luar biasa indah

lukisan alam yang luar biasa indah

kebayang baca buku ditemani secangkir teh dan ubi rebus

kebayang baca buku ditemani secangkir teh dan ubi rebus, di sini

kalau lihat ini kebayangnya lagi main air sore2 sama anak2 dan suami *menerawang

kalau lihat ini kebayangnya main air sore2 sama anak2 dan suami *menerawang

Ketika sampai di sana sudah ada rombongan yang entah dari mana sedang ngobrol dengan sesepuh kampung naga. Saya dan teman yang lain mengunjungi salah satu rumah yang menjual kerai dan memutuskan untuk ngobrol dengan bapak empunya rumah

Kenapa disebut Kampung Naga? apakah ada hubungannya dengan naga atau bagaimana? Ternyata tidak ada hubungannya sama sekali, hanya sebutan saja.

Pernah mendengar bahwa Kampung Naga sempat ditutup untuk orang luar karena masyarakat di sana terganggu kalau mereka dijadikan objek wisata. Pertama kali diajak masuk ke dalam, ada ragu dalam diri, takut kalau mereka terganggu. Saya kembali bertanya kepada bapak tersebut (lupa namanya). Apakah tidak merasa terganggu dengan kedatangan orang asing separti saya? Bapak tersebut menjawab, tidak neng. Dan jawaban si bapak tetap tidak membuat saya nyaman, masih ada rasa tidak enak.

Suasana hangat terpancar banget di sana, wajah ramah yang menyapa kami, sangat menyenangkan. Yang somehow membuat saya terenyuh, semoga Kampung Naga tidak di exploitasi oleh pihak-pihak yang hanya memanfaatkan mereka namun tidak memberikan manfaat kepada masyarakat di sana.

2015-03-07 11.02.33

ibu-ibu Kampung Naga sedang menumbuk padi

ibu-ibu Kampung Naga sedang menumbuk padi

Akhirnya saya membeli 2 buah kerai yang kebetulan juga saya butuh untuk di rumah dan speachless karena harga 1 kerai 40.000, di Jakarta mana dapat harga segitu :lol:, kemudian minta ijin bapak untuk foto-foto sekitar sebentar saja kemudian saya keluar duluan, duduk disamping sawah.

rumah si bapak penjual kerai dari kejauhan

rumah si bapak penjual kerai dari kejauhan

beberapa rumah yang menjual kerajinan tangan

beberapa rumah yang menjual kerajinan tangan

Yang unik dari tempat ini adalah harus menuruni tangga yang sudah di-semen. Dari sekian banyak orang yang sudah menghitung anak tangga hingga sekarang tidak ada yang tahu persis berapa jumlah anak tangga karena beda orang yang menghitung, beda pula hasilnya.

tangga menuju Kampugn Naga

tangga menuju Kampung Naga

Tetaplah seperti ini, walaupun saya mempunyai keinginan kuat untuk kembali sekedar memuaskan keinginan untuk duduk dan membaca buku dipinggir sawah atau di dekat bendungan, sepertinya hal tersebut urung saya lakukan demi kenyamanan masyarakat di sana.

The clearest way into the Universe is through a forest wilderness - john muir

The clearest way into the Universe is through a forest wilderness – john muir

Advertisements

7 thoughts on “Eksotisme Kampung Naga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s