Mengenai Tanggung Jawab

Hal ini sebenarnya sudah lama saya pendam, karena saya pikir tidak ‘wangun’ untuk ditulis. Tapi kok makin kesini saya makin nyesek, dari pada nyinyir ndak karuan di twitter atau fb, malah bisa membuka peluang untuk banyak orang salah paham dan jadi  tersinggung, maka saya tulis saja.

Tidak ada maksud untuk menyindir siapapun. Tidak ada maksud untuk jumawa dsbnya. Ini karena saya sedang sangat kecewa sampe ndak bisa marah lagi tapi pengen ngomong tapi ndak bisa. Kejadian ini terjadi berulang sampe saya kesel sendiri. Kesel karena sudah membantu. Kesel karena harusnya saya ndak boleh punya pikiran seperti ini. Kesel karena kok teman saya gtu sih. Kesel karena ujung-ujungnya saya yang repot. Kesel karena saya ndak bisa ngomong langsung, maka saya tulis saja.

quotes by John C. Maxwell | pict by me

Diantara teman-teman pasti ada yang pernah meminjam sesuatu kepada teman/pacar/kolega dsbnya. Termasuk saya. Meminjam sesuatu berarti kita membutuhkan ‘sesuatu’ tersebut. Meminjam sesuatu berarti juga kita siap untuk bertanggungjawab mengembalikan pinjaman tersebut. Dan sayangnya tidak semua orang bisa bertanggungjawab. Termasuk saya.

Betul, saya termasuk orang ‘agak’ susah bertanggungjawab terutama dengan diri sendiri tapi aku mau tanggung jawab untuk kamu kok mz untuk hal-hal tertentu. Karena menurut saya, meminjam itu berarti bertanggungjawab dengan diri sendiri untuk bisa mengembalikan ‘sesuatu’ yang kita pinjam dari orang lain. Oleh karena itu hingga sekarang, saya sangat membatasi diri untuk meminjam kecuali sangat dibutuhkan dan tidak bisa ditunda. Pun saya memutuskan untuk meminjam karena urgent, itupun harus saya pastikan kalau saya pasti bisa mengembalikan. Kalau saya tidak punya, akan saya tunggu sampai saya punya. Tidak bisa punya juga? selama itu bukan hal yang penting-penting banget ya sudah, abaikan. Kalau tidak bisa mengembalikan? Tidak akan saya pinjam walaupun saya butuh banget. Gampang? SUSAH DONK :|.. Walopun saya sejak kecil sudah diajari untuk tidak meminjam apa-apa kalau tidak urgent, tapi terkadang saya punya sifat ‘nggampake’. Itu sebabnya saya bilang susah.

Itu juga yang menyebabkan saya apa-apa selalu beli sendiri. Harus punya, padahal sebenarnya bisa pinjam, tapi ketika pinjam apakah saya bisa mengembalikan? apakah saya bisa menjaga sesuatu yang saya pinjam tersebut supaya tidak rusak/hilang? kalau rusak berarti saya harus mengganti?  dsbnya. Beban dan pikiran seperti itu selalu berkecamuk ketika saya memutuskan untuk meminjam sesuatu walopun itu hal kecil.

Apalagi kalau yang dipinjemi itu adalah orang terdekat, lebih susah lagi untuk bertanggungjawab. Kenapa? karena kita terlalu ‘nggampangke’. Masih bisa besok besok besok dan besoknya lagi, toh si fulan ini. Setidaknya menurut saya.

Meminjam sesuatu dari orang terdekat itu adalah yang terberat. Kenapa? Karena membuka peluang untuk merusak tali silahturahmi, yang kemudian membuka peluang juga untuk merepet panjang kemana-mana.

NO, YOU SHOULD NOT TO DO THAT

Ketika kamu meminjam sesuatu, itu artinya kamu punya tanggung jawab untuk mengembalikan. Sedekat apapun hubunganmu dengan orang yang meminjamkan kamu sesuatu. Namanya pinjem ya harus dikembalikan.

Ketika kamu meminjam sesuatu, tidak peduli seberapa besar kebutuhan kamu akan sesuatu tersebut, haruslah mengutamakan untuk dikembalikan. No matter what

Ketika kamu meminjam sesuatu namun tidak bisa mengembalikan sekaligus, lakukan sedikit-sedikit. Percayalah, usaha ini akan sangat dihargai, karena kebisaan/kepunyaan setiap orang itu berbeda.

Ketika kamu meminjam sesuatu namun tidak bisa tepat waktu pengembalian? Komunikasikan, kapan kamu bisa. Sudah dikomunikasikan tapi ada halangan untuk pengembalian? Komunikasikan kembali. Begitu seterusnya.

Ketika kamu meminjam sesuatu, jangan sampai diingatkan untuk pengembalian. Lupa beneran? Berterimakasihlah karena sudah diingatkan dan jangan sampai diingatkan untuk kedua kali.

Jadi pastikan kamu siap untuk bertanggungjawab ketika melakukan sesuatu, terutama dalam hal pinjam meminjam. Jangan sampai ada yang dikecewakan. Jangan sampai terjadi pertengkaran terlebih permusuhan ataupun terputusnya tali silahturahmi. Karena itu akan mencerminkan kepribadian-mu. Setidaknya ini menurut saya

Advertisements

9 thoughts on “Mengenai Tanggung Jawab

  1. Kimi says:

    Aku sepakat, Mbak. Aku juga rada sensi dalam urusan pinjam-meminjam ini. Sebisa mungkin aku tidak pinjam ke orang lain, kecuali sangat terpaksa. Karena meminjam itu membuatku menjadi tidak bebas. Memenjarakan diri. Jadi, ketika aku meminjam apapun ke orang lain, sebisa mungkin aku kepingin cepat-cepat untuk bebas. Aku juga berharap ketika ada orang lain yang meminjam sesuatu kepadaku mereka juga punya rasa tanggung jawab yang sama. Begitulah idealnya. 😀

    • nunik99 says:

      Nah iya kimi,,, tapi ternyata ndak semua orang gtu ya, termasuk teman dekat sekalipun.. kan aku jadi punya pikiran ndak akan minjemin lagi, lah kalo dia beneran butuh trs aku ndak mau minjemin tapi malah jadi kenapa2 kan aku bakal nyesel seumur hidup 😐

  2. katacamar says:

    ya setuju bingiit, kalau kita pinjam sstu mestinya ketika mengembalikan minimal masih sama, syukur2 bisa lebih baik angan sampai malah ngrusak.
    contoh pinjam cangkul pas ngembaliin ya… harus bersih walaupun waktu pinjam adinya kotor dan buat nyangkul jadi kotor juga, setidak-tidak kita menghargai dan berterima kasih karena sudah dipinjami.
    contohnya cangkul, boleh ya mbak nunik..
    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s