hari pertama puasa

Yang namanya pertama kali pastinya sangat berkesan, untuk hal apapun. Termasuk ketika pertama kali ikutan berpuasa. Masih ingat sekali, saya pertama kali puasa itu umur 6 tahun. Saya bertanya kepada ayah saya, apakah anak kecil juga harus puasa?? , kemudian ayah saya menjawab “iya sayang, anak kecil juga harus berpuasa” . Namun tidak ada paksaan sama sekali dalam keluarga saya untuk mengharuskan anak-anaknya berpuasa, apalagi saya masih berumur 6 tahun, tidak ada pula iming-iming kalau puasa akan di kasih hadiah, semacam reward . Tidak, orang tua saya bukan tipikal seperti itu.

Tapi cara mereka melibatkan kami dari awal persiapan berpuasa (sahur) hingga berbuka, itu yang membuat kami, anak-anaknya mau menjalankan puasa tanpa dipaksa. Kami empat bersaudara, mulai dilibatkan berpuasa ketika berumur 6 tahun, karena menurut orang tua saya 6 tahun adalah umur yang sangat pas untuk mengajari anak-anaknya berpuasa, dibawah 6tahun kalau mau puasa boleh, tapi tidak usah dibangunkan, kecuali memang terbangun sendiri

Hari pertama, saya berpuasa hingga pukul 9 pagi . Selama seminggu, perharinya nambah 1 atau 2 jam, hingga sebulan penuh buka puasa selalu diatas jam 12 siang. Pernah, karena saya lupa hari itu berpuasa, pulang sekolah (TK) saya tidak sadar langsung menuju dapur untuk minum dan terlihat oleh kakak saya. “iih adek kok minum, kan puasa” begitu kata kakak saya. Saya terkejut dan seketika menangis, berlari mencari ibu saya, minta puasanya diulang karena saya tidak mau puasa hari ini batal hanya karena saya lupa.

Belum lagi ketika saya mandi, ketika cebar cebur tanpa sengaja meminum air bak mandi. Dan -lagi- saya menangis, lari mencari ibu saya dan mengatakan “adek ndak sengaja minum air bak mandi, puasanya diulang ya mami” ..

Menulis hal ini, membawa memory saya kembali ke masa dimana saya masih lucu-lucunya hihihihi. Sangat jelas terekam pola didik yang diajarkan orang tua saya untuk segala hal, termasuk ketika memulai berpuasa. Ketika saya punya anak nanti, saya ingin menerapkan hal ini kepada buah hati saya, bahwa untuk mendidik sesuatu yang baik untuk mereka ke depannya tidak perlu dengan “melulu memberikan rewards” 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s