Review #obsat “bicara musik dan HKI”

Di indonesia sudah banyak bermunculan band-band baru dengan hasil karya yang sangat bagus , pun band lama yang lagunya sudah dikenal dan dinikmati banyak masyarakat diindonesia. Tapi tidak sedikit dari para musisi tersebut yang awam mengenai hak dan kewajibannya di industry musik, termasuk mengenai kontrak. Tidak sedikit pula karena ketidaktahuan para musisi tersebut disalahgunakan oleh oknum untuk mengambil keuntungan secara sepihak sehingga merugikan pihak musisi.  Hal ini banyak menimbulkan perselisihan yang mengakibatkan banyak band yang akhirnya gonta ganti label, bahkan memutuskan memproduksi sendiri album yang diciptakan. Persoalan sederhana namun memerlukan perhatian khusus dari para musisi yang ingin terus bisa bertahan di dunia musik.

Cara seniman menghargai karyanya sendiri adalah bagaimana memproteksi karya yang dihasilkan

Menurut Ari Juliano Gema (@arijuliano) seorang pakar hukum,  hal ini seharusnya tidak terjadi, bisa diminimalisir dengan pihak label jika para musisi lebih mengetahui mengenai HKI.  HKI adalah Hak Kekayaan Intelektual, tidak terbatas pada hak para musisi saja namun semua orang  yang memiliki karya. Karena semuanya akan berujung di penghasilan yang didapatkan dari karya tersebut.

“Bila seorang seniman ribut soal HKI, apakah berarti seniman itu mencari kekayaan? “ demikian kutipan dari akun twitter Pepeng (@i_frank ) dari Naif Band (@Naifband)  yang semalam ikut sharing mengenai Musik dan HKI mewakili para musisi.

Pepeng menceritakan hubungan Naif Band dengan label yang menaungi. Sangat sukses dengan tiga album yang telah diluncurkan namun tidak begitu dengan kondisi ekonomi para personel. Hal tersebut  membuat pepeng dan kawan-kawan  akhirnya melakukan negosiasi ulang dengan pihak label dan hasilnya label menaikkan kontrak menjadi sepuluh kali lipat dari kontrak awal.

Jika ada permasalahan  yang timbul dari kesepakatan yang telah dilakukan, sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu secara kekeluargaan , ujar Ari

Dijelaskan oleh bung Ajo (panggilan akrab dari Ari Juliano Gema) menjadi seorang musisi tidak hanya terbatas dengan menciptakan lagu dan melempar kepasaran. Namun harus ada proteksi dari semuanya dan itu sebaiknya dilakukan di awal.

Dari Nama band itu sendiri dan lagu-lagu yang diciptakan. Jika nama band di ciptakan oleh orang diluar band itu sendiri, sebaiknya royalty diberikan sebelum “merk/nama band” tersebut dipatenkan untuk menghindari konflik “klaim” dikemudian hari .

Bicara mengenai Lagu. Lagu sangat berkaitan dengan royalty, baik itu royalty yang diterima oleh band maupun royalty yang diterima oleh pencipta lagu. Ketika satu band di undang untuk tampil disatu acara, perlu ada pembicaraan awal dengan pihak penyelenggara, apakah dokumentasi baik berupa foto atau video menjadi sepenuhnya milik penyelenggara dan boleh dikomersilkan atau menjadi milik band tersebut, karena dokumetasi dalam bentuk apapun itu juga merupakan hasil karya dari band tersebut dan jika dikomersilkan band berhak untuk mendapatkan Royalty.  Untuk itulah diperlukan adanya collecting society untuk menghubungkan antara musisi dan industry. Lembaga yang mengkhususkan diri memberikan jasa untuk mengumpulkan dan melaporkan royalty yang seharusnya diterima musisi.

Seiring menjamurnya band-band dan musisi baru  dindonesia sudah banyak bermunculan collecting society yang bisa dipilih. Diantaranya adalah Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) dan Wahana Musik Indonesia (WAMI).

Naif Band pernah menggunakan jasa salah satu collecting society namun akhirnya mengakhiri kerjasama karena pelaporan yang diberikan tidak lengkap atau tidak sesuai dengan harapan, cerita pepeng. Oleh karena itu sangat penting untuk mencari tau track record dari collecting society yang akan dipilih, jangan pernah lelah untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, jangan pernah malu untuk bertanya hal yang belum diketahui dengan detil, agar tidak mengulang kisah yang dialami oleh Naïf Band.

Hak cipta adalah hak mengumumkan dan memperbanyak

Penyalahgunaan Hak Cipta bukanlah hal yang baru, ada lagu yang dianggap meniru lagu lainnya merupakan masalah yang sering muncul. Berikut bung ajo memberikan 3 tips, bagaimana cara agar karya kita tidak dicuri / disalahgunakan :

  1. Buktikan dulu kepemilikan karya kita : pada  saat membuat satu karya, sangat diperlukan adanya saksi. Orang-orang sekitar yang kebetulan ada pada saat pembuatan karya tersebut bisa dikatakan sebagai saksi.
  2. Buktikan akses kepada karya kita : terkadang tidak semua karya yang kita hasilkan didengarkan oleh orang lain. Cara proteksinya bisa dengan cara merekam lagu tersebut kemudian kirimkan melalui kantor pos ke alamat kita sendiri. Dari kantor pos akan ada stempel cap dan tanggal yang bisa dijadikan bukti.
  3. Buktikan bagian Substansial yang ditiru : dalam hal ini lebih kepada signature / cirri khas dari karya yang dihasilkan. Jika suatu karya sudah mempunyai signature akan sangat mudah mengetahui apakah karya kita ditiru atau tidak. Signature bisa berupa dentingan gitar, ketukan drum, dan suara dari sang vokalis. Disinilah dibutuhkan suatu kreatifitas dari para musisi.

Ketiga unsur diatas adalah saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri. Hal yang juga harus diperhatikan oleh para musisi ketika menciptakan suatu karya seni, untuk menghindari munculnya pengklaiman orang pihak lain kedepannya.

Perbedaan Pencipta dan pemegang hak cipta :

  • Jika ciptaan dikerjakan beberapa orang, yang memimpin serta mengawasi dianggap penciptanya, kecuali diperjanjikan lain.
  • Jika ciptaan dibuat dalam hubungan dinas, maka pemegang hak cipta adalah negara / instansi yg mewakili, kecuali diperjanjikan lain. ( contoh : hal yang dilakukan Briptu Norman)
  • Jika dibuat karena pesanan instansi, pemegang hak cipta adalah instansi, kecuali diperjanjikan lain.
  • Jika ciptaan dibuat karena pesanan dari swasta, pencipta dan pemegang hak cipta itu pihak pembuat, kecuali diperjanjikan lain

Selain medapatkan tambahan pengetahuan mengenai seluk beluk HKI, #obsat semalam tambah seru dengan kehadiran Time Travellers (@Time_travellers), band bentukan pepeng yang mengusung genre indo rock. Permainan musiknya cukup menyita perhatian teman-teman yang hadir di jl.langsat 1/3A,keb baru, hingga 3 lagu tidak cukup dan akhirnya Time Travellers memainkan 4 lagu. Sangat menghibur dan sukses membuat kepala bergoyang.

#obsat 12 mei 2011

gambar dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Review #obsat “bicara musik dan HKI”

    • nyanyian munchkin says:

      huwaaaaaaaaaa mas ari, tersanjung saya dikunjungi blognya *deg2an

      sangat bermanfaat sekali mas, saya seneng banget pas ada disana pas topiknya “kena” .. kebetulan temen saya ada yg punya band dan sudah saya sharing.. buat saya, jadi masukan tersendiri 🙂

      sukses terus ya mas,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s